Rebound setelah jebol 3.900 dolar AS

Harga emas spot naik sekitar 1,8 persen ke 3.945,70 dolar AS per troy ounce pada Selasa (3/11) pagi waktu Indonesia barat, menurut data Kitco per pukul 05.57 WIB. Kenaikan sekitar 71,30 dolar AS dari penutupan sebelumnya ini mengembalikan harga ke atas level 3.900 dolar AS.

Level tersebut jebol pada Jumat (30/10), ketika harga emas sempat menyentuh 3.879,40 dolar AS, level terendah dalam satu tahun. Pada perdagangan hari ini harga sempat mencapai 3.971,00 dolar AS sebelum sedikit turun, menurut data yang sama.

Perkembangan terbaru

Pada sesi Asia Selasa (3/11), reli emas terhenti. Harga emas spot turun 0,5 persen ke 3.926,52 dolar AS per troy ounce pada 10.53 WIB, menurut Reuters. Pada sesi sebelumnya, harga sempat naik lebih dari 2 persen ke 3.954,41 dolar AS. Kenaikan itu bangkit dari titik terendah setahun yang disentuh pada Jumat (30/10).

Emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ikut melemah 0,8 persen ke 3.936,30 dolar AS per troy ounce. Para investor menahan diri menjelang hasil pemilu sela AS yang digelar hari ini.

Tekanan juga datang dari ekspektasi suku bunga. Pelaku pasar memperkirakan peluang 74 persen Federal Reserve menaikkan suku bunga lagi pada Desember, menurut perangkat FedWatch milik CME Group. Kenaikan suku bunga menaikkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Minyak mentah anjlok lebih dari 7 persen pada Senin (2/11), meredakan kekhawatiran inflasi berbasis energi. Inflasi energi yang mereda cenderung mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai.

Analis pasar Tim Waterer dari KCM Trade menilai emas dijual sebagai aset likuid untuk menutup kerugian dan margin call di pasar lain. Menurut dia, emas tidak sedang diborong sebagai aset aman tradisional.

Waterer menambahkan, kemenangan telak Demokrat bisa mempersulit ekspansi pusat data kecerdasan buatan dan menekan saham teknologi. Tekanan itu berpotensi menular ke emas jika investor terus memangkas posisi.

Di logam mulia lain, perak spot turun 1,8 persen ke 49,71 dolar AS per troy ounce. Platinum turun 0,2 persen ke 1.446,80 dolar AS, sedangkan paladium turun 1,4 persen ke 953,64 dolar AS per troy ounce.

Dolar melemah jadi penopang utama

Menurut FXStreet, emas diuntungkan oleh pelemahan dolar AS secara luas. Indeks dolar (DXY) berada di 101,72 atau turun 0,24 persen pada Selasa dini hari WIB, karena pelaku pasar menepi dari dolar menjelang pemilu paruh waktu AS dan di tengah kabar kemungkinan terobosan negosiasi AS-Iran.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang turun ikut menjadi katalis penguatan emas, tulis FXStreet. Emas tidak membayar bunga, sehingga penurunan imbal hasil membuat logam mulia relatif lebih menarik dibandingkan instrumen berbunga.

Tekanan inflasi energi juga mereda. Harga minyak WTI turun lebih dari 6,6 persen ke 96,11 dolar AS per barel di tengah harapan diplomasi AS-Iran, menurut laporan yang sama. Minyak yang lebih murah mengurangi kekhawatiran inflasi yang selama ini menopang ekspektasi suku bunga tinggi.

Latar singkat

KabarFX sebelumnya melaporkan emas anjlok lebih dari 3 persen pada Jumat (30/10) hingga menembus di bawah 3.900 dolar AS, level terendah sejak Oktober 2025, seiring melonjaknya harga minyak dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Baca: Emas Jebol $3.900 Setelah Anjlok 3 Persen

Kenapa ini penting untuk forex

Pergerakan XAU/USD sering menjadi cermin arah dolar AS karena emas dihargai dalam dolar: dolar yang melemah membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung naik. Kali ini, pelemahan dolar dipicu oleh kombinasi faktor politik (pemilu paruh waktu AS pada Selasa) dan geopolitik (harapan de-eskalasi dengan Iran), bukan oleh data ekonomi yang buruk. Data manufaktur ISM AS untuk Oktober justru melampaui perkiraan, namun pasar mengabaikannya.

Bagi ekspektasi suku bunga, rebound emas belum mengubah gambaran besar. FXStreet mencatat tren emas secara keseluruhan masih menurun, dan pemulihan yang berkelanjutan kemungkinan membutuhkan harga menembus kembali 4.000 dolar AS. Selama taruhan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember tetap tinggi, dolar berpeluang menemukan pijakan baru, dan itu bisa kembali menekan XAU/USD.

Yang dipantau

  • Keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa (3/11) pukul 10.30 WIB, dengan pasar memperkirakan kenaikan 25 basis poin ke 4,85 persen.
  • Hasil pemilu paruh waktu AS yang mulai terhitung pada Rabu (4/11) pagi WIB.
  • Data lowongan kerja AS (JOLTS) dan pesanan pabrik (Factory Orders) pada Selasa (3/11) malam WIB.
  • Keputusan suku bunga Bank of England (BoE) pada Kamis (5/11) pukul 19.00 WIB.

Sumber