Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Sabtu (7/11) bahwa ia sedang mengkaji proposal 14 poin Iran untuk mengakhiri perang, namun meragukan proposal itu bisa diterima dan memperingatkan serangan bisa berlanjut.
Teheran mengirim proposal itu Kamis (5/11) lewat Pakistan, menurut Tasnim. Proposal itu menjawab rencana sembilan poin AS yang meminta gencatan senjata dua bulan.
Menurut media Iran, proposal itu meminta jaminan tidak ada serangan, penarikan pasukan AS, pencabutan blokade dan sanksi, pencairan aset beku, ganti rugi perang, serta penghentian permusuhan di semua lini, termasuk Lebanon. Teheran meminta semua persoalan selesai dalam 30 hari, sementara pembicaraan nuklir ditunda.
Di Florida pada Sabtu, Trump mengatakan ia telah diberi penjelasan tentang garis besar kesepakatan itu. Ia menegaskan serangan bisa berlanjut bila Teheran berbuat buruk. Di Truth Social, Trump mengatakan sulit membayangkan proposal Iran bisa diterima karena Teheran belum membayar harga yang cukup besar.
Titik gesek terbesar tetap program nuklir. Trump menjadikan nuklir Iran garis merah, sementara Teheran ingin pembahasan nuklir ditunda dan hak pengayaan uranium dijamin. Paul Musgrave dari Universitas Georgetown menilai Iran sedikit melunak, namun kedua pihak masih jauh berbeda soal pengayaan.
Reuters dan Axios melaporkan kedua pihak hampir menyepakati nota kesepahaman satu halaman, dengan Iran menghentikan pengayaan uranium setidaknya 12 tahun dan AS mencabut sanksi serta membuka Hormuz dalam 30 hari. Pejabat Iran membantah laporan itu; Baghaei mengatakan Teheran belum menyampaikan tanggapan.
Di pasar, Brent untuk pengiriman Januari ditutup Jumat (6/11) di 98,32 dolar AS per barel, turun 13,32 persen dalam sepekan, menurut Dow Jones Market Data. Indeks dolar AS ditutup di 102,28, naik 0,68 persen.
Latar singkat
KabarFX sebelumnya memberitakan perundingan AS-Iran di Doha berakhir Senin (2/11) tanpa kesepakatan, setelah tiga hari pembicaraan yang dimediasi Qatar. Putaran itu berpusat pada rencana tujuh langkah Iran.
Kenapa ini penting untuk forex
Saluran transmisinya lewat harga minyak dan premi risiko energi. Sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia melewati Hormuz, menurut Al Jazeera. Bila diplomasi maju, premi risiko bisa terus menyusut dan Brent melanjutkan penurunan, yang meredakan tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Bila serangan berlanjut, minyak bisa kembali mahal dan menahan peluang kenaikan suku bunga Desember, yang kini sekitar 77 persen menurut CME FedWatch. Aset aman bergerak sebaliknya: ketegangan yang mereda menekan emas dan yen, sedangkan eskalasi mengangkat keduanya dan menekan mata uang komoditas seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru.
Yang dipantau
- Tanggapan resmi Washington atas proposal 14 poin Iran.
- Hasil pemilu Selandia Baru, Sabtu (7/11), dan dampaknya saat pasar Asia buka Senin (9/11).
- Inflasi China (CPI) Oktober, Senin (9/11) pukul 08.30 WIB.
- Inflasi AS (CPI) Oktober, Selasa (10/11) pukul 20.30 WIB.