Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi pada Jumat (6/11) bahwa militer AS melancarkan serangan baru ke sistem pertahanan udara Iran di Pulau Qeshm. Menurut Trump, serangan itu kecil dan dilakukan karena sistem pertahanan udara Iran telah dibangun kembali setelah serangan AS dan Israel pada Juni lalu. Ia mengklaim perangkat tersebut telah dihancurkan.

Serangan terhadap sistem pertahanan udara di Qeshm

Trump menyebut serangan itu kecil. Ia mengatakan pasukan AS menghancurkan perangkat pertahanan udara di Pulau Qeshm, di kawasan timur Selat Hormuz. Kantor berita IRIB menyebut ledakan terjadi di kawasan Suza, dan menegaskan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan material. Laporan pemerintah Iran juga menyebut serangan itu ditujukan ke situs pertahanan udara Qeshm, menurut laporan yang dikutip Al Jazeera dari kantor berita Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan dua ledakan di kawasan Suza, Pulau Qeshm. Penyiar IRIB melaporkan ledakan pertama terjadi pukul 20.04 waktu setempat, dan ledakan kedua pukul 20.09, menurut laporan yang dikutip Anadolu. Sejauh ini, tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut situasi relatif tenang. Seorang pejabat CENTCOM mengatakan kepada kantor berita AP bahwa situasi di kawasan itu tenang, dan tidak ada indikasi pasukan Iran sedang bersiap menyerang pasukan AS.

Media pemerintah Iran pada Sabtu (7/11) mengklaim pertahanan udara Iran menembak jatuh sebuah drone MQ-9 milik AS di atas Pulau Qeshm. Klaim itu belum dikonfirmasi Amerika Serikat, dan Komando Pusat AS (CENTCOM) tidak mengomentarinya. Menurut media Iran, klaim itu merupakan yang kedua dalam dua hari, setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan pada Jumat (6/11) telah menjatuhkan drone MQ-1 di kawasan yang sama. Pada Jumat malam, CENTCOM juga mengumumkan hadiah hingga 20 juta dolar AS bagi informasi tentang program nuklir Iran.

Pada Sabtu (7/11) pagi, sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak ranjau laut di timur Selat Hormuz. Angkatan Laut Iran mengatakan kapal itu berlayar di zona terlarang meski sudah diperingatkan berulang kali, dan sistem navigasinya dimatikan. Menurut pernyataan itu, kapal tersebut tidak bisa bergerak setelah kebakaran terjadi. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini, menurut laporan yang sama.

Insiden ini melanjutkan rentetan gangguan pelayaran di kawasan itu. Pada Jumat (6/11), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan dua kapal tanker terbakar setelah memasuki perairan terlarang tanpa koordinasi dengan otoritas Iran.

Pada Sabtu (7/11) malam, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan dua kapal tanker lagi menabrak ranjau laut dan terbakar. Menurut pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran, satu kapal berada di timur Selat Hormuz dan satu lagi di dalam selat. Kedua kapal disebut mematikan sistem navigasi dan mencoba melintas lewat koridor selatan yang tidak diizinkan. Klaim ini belum dikonfirmasi pihak independen, dan IRGC tidak menyebut nama kapal maupun nasib awaknya.

Pada hari yang sama, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pesawat militer AS menembak dan melumpuhkan sebuah kapal kargo di Teluk Oman. Menurut CENTCOM, kapal berbendera Saint Kitts dan Nevis bernama M/V Huda itu berulang kali mengabaikan peringatan dan mencoba menembus blokade laut AS terhadap Iran. Pesawat AS menembakkan amunisi presisi ke buritan kapal setelah awaknya diarahkan menjauhi area sasaran. Kapal itu baru saja bersandar di pelabuhan Iran dan hendak meninggalkan perairan kawasan. Menurut layanan pelacakan Vesseltracker, kapal itu tertembak di area jangkar dekat pelabuhan Khor Fakkan dan seluruh awak dilaporkan selamat.

CENTCOM juga mengatakan pihaknya membentuk satuan tugas baru untuk menekan pergerakan senjata canggih dan material yang disanksi lewat perbatasan darat Iran dan Laut Kaspia. Menurut CENTCOM, blokade laut yang berjalan sejak Juli telah mencegah ekspor minyak mentah Iran senilai lebih dari 25 miliar dolar AS. Sejak Juli, pasukan AS telah mengalihkan 147 kapal dagang yang patuh dan melumpuhkan lima kapal yang menolak mengikuti perintah.

Serangan Jumat itu terjadi di tengah tarik-menarik diplomasi. Qatar, mediator utama, pada Sabtu (7/11) mengatakan sedang mengkaji proposal 14 poin Iran untuk mengakhiri perang. Trump meragukan kesepakatan bisa tercapai menurut laporan Al Jazeera. Pagi ini, KabarFX memberitakan kesepakatan itu masih dijajaki, dan Brent ditutup Jumat (6/11) di 98,32 dolar AS per barel.

Qatar pada Sabtu (7/11) membantah laporan yang menyebut perundingan AS-Iran telah gagal. Kantor Media Internasional Qatar menyatakan pernyataan Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani telah diputarbalikkan, dan menegaskan kedua pihak masih berupaya mencapai kesepakatan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan klaim semacam itu hanya menguntungkan pihak yang ingin memperpanjang perang. Trump pada Jumat (6/11) juga mengatakan perundingan telah mencapai banyak kemajuan, tanpa memberi rincian.

Trump sendiri berganti nada sejak pemilu sela. Kamis (5/11), ia mengatakan AS mungkin harus menghancurkan sistem pertahanan udara Iran. Pernyataan itu berbalik dari sikapnya sehari sebelumnya, ketika ia mengatakan serangan mungkin tidak diperlukan. Presiden mengatakan pihaknya sedang menjajaki jalan diplomasi, dan kemungkinan serangan baru tidak dapat dikesampingkan.

Juru bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia memperingatkan pada Jumat (6/11) bahwa serangan baru Amerika Serikat (AS) akan dibalas segera dan efektif, tanpa batas geografis. Pernyataan itu disampaikan atas perintah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, menurut kantor berita Anadolu yang mengutip kantor berita ISNA. Akraminia mengatakan pangkalan dan kepentingan AS di luar Asia Barat berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran. Ia menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali strategis Iran dan tidak akan dibuka kembali sebelum tujuh syarat Teheran dipenuhi. Syarat itu antara lain pencabutan sanksi, pencairan aset beku, ganti rugi atas kerusakan akibat pemboman, serta pencabutan blokade terhadap pelabuhan dan perdagangan laut Iran.

Di jalur keuangan, Departemen Keuangan AS pada Jumat (6/11) memberi sanksi terhadap delapan perusahaan jasa keuangan berbasis di Kanada. Menurut departemen itu, perusahaan-perusahaan tersebut membantu Iran memindahkan dana lewat aset digital. Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) menyebut perusahaan-perusahaan itu menukar rial Iran dan mata uang lain menjadi aset digital. Sebagian perusahaan itu bertransaksi dengan bursa kripto Iran yang sudah disanksi serta alamat yang terkait Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Langkah ini merupakan bagian dari Operasi Economic Outcast. Langkah itu dikoordinasikan dengan Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan (FinCEN) serta pusat Analisis Transaksi dan Laporan Keuangan Kanada (FINTRAC).

Delapan menteri luar negeri Eropa dan Timur Tengah memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak menyerang Iran lagi. Para menteri dari Inggris, Prancis, dan Jerman bertemu dengan mitranya dari Turki, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir di Istanbul pada Jumat (6/11), bersama Italia. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan eskalasi lebih lanjut hanya akan merugikan semua pihak dan berdampak serius pada harga hidrokarbon. Sementara itu, Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengatakan Washington bisa saja menyerang Iran akhir pekan ini. Ia menyampaikan hal itu dalam wawancara siniar, menurut Al Jazeera.

Latar singkat

KabarFX sebelumnya memberitakan Trump mengkaji proposal 14 poin Iran untuk mengakhiri perang dan laporan awal serangan AS ke Pulau Qeshm pada Selasa (3/11), ketika Brent sempat naik 0,5 persen. Serangan terbaru ini menjadi serangan pertama sejak pemilu sela AS, dan terjadi setelah Iran dan Qatar menggelar perundingan tidak langsung di Doha tanpa kesepakatan pada Senin (2/11).

Kenapa ini penting untuk forex

Saluran transmisinya lewat harga minyak dan premi risiko. Sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz, menurut Al Jazeera. Brent ditutup Jumat (6/11) di 98,32 dolar AS per barel, menurut Dow Jones Market Data, sebelum kabar konfirmasi serangan tersebar luas. Pembukaan pasar Senin (9/11) menjadi ujian pertama apakah premi risiko kembali naik. Peringatan balasan tanpa batas geografis dan tujuh syarat untuk membuka Hormuz menjaga premi risiko tetap tinggi menjelang pembukaan Senin (9/11). Kapal tanker yang menabrak ranjau pada Sabtu (7/11) menunjukkan gangguan pelayaran berlanjut hingga akhir pekan. Penembakan kapal kargo M/V Huda pada Sabtu malam menunjukkan penegakan blokade AS juga meningkat menjelang pembukaan Senin (9/11).

Bila ketegangan mereda, Brent bisa melanjutkan penurunan mingguan 13,32 persen dan meredakan tekanan inflasi. Bila eskalasi berlanjut, minyak yang mahal menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, tetap tinggi dan menopang dolar AS. Aset aman bergerak sebaliknya: emas dan yen Jepang cenderung menguat saat ketegangan naik, sedangkan dolar Australia dan dolar Selandia Baru yang sensitif terhadap selera risiko tertekan.

Yang dipantau

  • Hasil pemilu Selandia Baru, Sabtu (7/11), dan dampaknya saat pasar Asia buka Senin (9/11).
  • Inflasi China (CPI) Oktober, Senin (9/11) pukul 08.30 WIB.
  • Inflasi AS (CPI) Oktober, Selasa (10/11) pukul 20.30 WIB.
  • Rapat The Fed berikutnya, 8-9 Desember; pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 78 persen, menurut data CME FedWatch.
  • Respons AS terhadap tujuh syarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang menentukan arah premi risiko.
  • Reaksi pasar saat perdagangan dibuka Senin (9/11), setelah dua kapal tanker dilaporkan terbakar dan AS melumpuhkan kapal kargo M/V Huda pada Sabtu (7/11) malam.