Harga minyak mentah rebound pada Rabu (4/11) setelah dua sesi melemah. Minyak Brent naik 0,7 persen ke 104,36 dolar AS per barel pada sekitar 14.30 WIB, ditopang susutnya stok minyak Amerika Serikat dan ketidakpastian arah perang AS-Israel dengan Iran.
Minyak Brent berjangka naik 76 sen ke 104,36 dolar AS per barel pada 14.30 WIB, menurut Reuters. Minyak West Texas Intermediate (WTI), acuan Amerika Serikat, naik 63 sen atau 0,7 persen ke 96,72 dolar AS per barel dan membalikkan pelemahan pada awal sesi. Dow Jones Newswires mencatat Brent di 104,30 dolar AS pada perdagangan awal Eropa. Pada sesi sebelumnya, Brent ditutup di level terendah hampir empat pekan.
Dukungan fundamental datang dari data American Petroleum Institute (API). Stok minyak mentah AS turun 5,27 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober. Angka ini berlawanan dengan ekspektasi delapan analis yang disurvei Reuters, yang memperkirakan kenaikan sekitar 880.000 barel. Stok bensin naik 1,43 juta barel, sementara stok distilat turun 1,19 juta barel. Menurut Haitong Futures, data tersebut secara umum menopang harga minyak karena stok diesel tetap ketat.
Ketidakpastian geopolitik belum reda. Amerika Serikat melancarkan serangan "defensif" ke Pulau Qeshm di Iran pada Selasa (3/11) yang menargetkan rudal permukaan-ke-udara. Seorang pejabat AS menyebut serangan itu terbatas dan bukan tanda kembalinya operasi tempur besar. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Financial Times pada hari yang sama bahwa Washington tidak memiliki rencana langsung untuk menyerang Iran. Namun seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kedua pihak masih jauh dari kesepakatan damai, sementara Qatar meningkatkan upaya mediasi.
Hasil pemilu sela AS menambah lapisan ketidakpastian. Partai Demokrat merebut mayoritas di kedua kamar Kongres. Trump mengakui dalam wawancara dengan The Wall Street Journal bahwa perang Iran ikut menyebabkan kekalahan Partai Republik, meski ia menyatakan tidak menyesalinya. Menurut Michelle Brouhard, kepala kebijakan dan risiko geopolitik di Kpler, kongres baru baru dilantik pada 3 Januari sehingga pemerintahan berjalan masih punya hampir dua bulan untuk bertindak. Analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey menilai pasar makin memperhitungkan kemungkinan permusuhan lanjutan antara AS dan Iran.
Kenapa ini penting untuk forex
Energi adalah jalur transmisi paling langsung dari geopolitik ke ekspektasi suku bunga. Minyak yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel menambah tekanan biaya pada saat inflasi sudah tinggi: inflasi zona euro mencapai 4,0 persen pada Oktober, inflasi Inggris 3,5 persen pada September, dan inflasi inti AS berjalan di 3,1 persen per tahun. Kombinasi ini memperkuat taruhan pasar pada kenaikan suku bunga lanjutan, dari ECB pada Desember hingga Bank of England yang memutuskan besok dan The Fed pada 8-9 Desember.
Bagi mata uang, efeknya terbagi dua. Dolar Kanada dan dolar Australia, sebagai mata uang eksportir energi, mendapat dukungan dari membaiknya terms of trade. Sebaliknya, importir energi bersih seperti Jepang menghadapi tekanan biaya impor yang bisa melemahkan yen, kecuali sentimen risiko memburuk dan mendorong arus safe haven ke yen dan franc Swiss. Pasangan yang paling sensitif pekan ini adalah USD/CAD untuk sisi komoditas dan EUR/USD untuk sisi diferensial suku bunga.
Yang dipantau
- Data resmi stok minyak AS dari Energy Information Administration (EIA): Rabu (4/11) pukul 22.30 WIB.
- Keputusan suku bunga Bank of England: Kamis (5/11) pukul 19.00 WIB; pasar memperkirakan peluang sekitar 96 persen kenaikan ke 4 persen.
- Data tenaga kerja AS: Jumat (6/11) pukul 20.30 WIB.
- Perkembangan mediasi Qatar untuk mengakhiri perang AS-Iran.
Sumber
- Reuters: Oil rises on Iran war uncertainty after Trump's Republicans are routed in midterms
- Dow Jones Newswires via Morningstar: Oil Prices Rise as Investors Weigh U.S. Midterm Results, Iran Risks