Presiden Federal Reserve (Fed) New York John Williams menyebut ekonomi Amerika Serikat (AS) sangat tangguh dan pasar tenaga kerja solid, tetapi inflasi masih terlalu tinggi dan perlu segera kembali ke 2 persen.

Williams menyampaikan penilaian itu dalam pidato pada Jumat (6/11), pidato pertama pejabat Fed setelah masa larangan komunikasi bank sentral berakhir. Menurut Reuters, ia mengatakan inflasi benar-benar terlalu tinggi dan sudah terlalu lama berada di atas target. Ia menegaskan penting bagi Fed untuk membawa inflasi kembali ke 2 persen secara tepat waktu.

Meski begitu, Williams memberi sinyal Fed tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Ia menyebut saat ini waktu yang tepat untuk mengumpulkan lebih banyak informasi, karena kebijakan moneter membutuhkan waktu satu sampai dua tahun untuk terasa dampaknya. Ia menilai pertumbuhan ekonomi menguat, pasar tenaga kerja stabil dan solid, serta dampak tarif terhadap harga sebagian besar sudah berlalu.

Pernyataan itu datang beberapa jam sebelum laporan ketenagakerjaan AS bulan Oktober dirilis pada Jumat (6/11) pukul 20.30 WIB. Data tersebut menjadi ujian berikutnya bagi pasar tenaga kerja, setelah klaim pengangguran mingguan turun dan produktivitas naik 3,6 persen.

Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75 sampai 4,00 persen pada rapat 28 Oktober, dengan suara 10 banding 2. Dua pejabat, Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, memilih kenaikan seperempat poin pada rapat itu. Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada rapat 8-9 Desember berada di atas 80 persen pada Jumat pagi, lalu turun ke sekitar 70 persen setelah imbal hasil obligasi AS merosot selama aksi jual saham teknologi.

Kenapa ini penting untuk forex

Williams adalah salah satu pejabat Fed yang paling berpengaruh, dan komentarnya langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap jalur suku bunga AS. Ketika pejabat Fed memberi sinyal menunggu data, pasar biasanya menurunkan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, dan itu melemahkan daya tarik dolar AS karena imbal hasil obligasi AS cenderung turun. Sebaliknya, penegasan bahwa inflasi masih terlalu tinggi menjaga ekspektasi suku bunga tetap tinggi, sehingga dolar tetap mendapat dukungan.

Bagi pasangan mata uang utama, pernyataan ini relevan untuk EUR/USD dan USD/JPY. Euro mendapat ruang saat ekspektasi kenaikan Fed mereda, sementara yen menguat ketika imbal hasil obligasi AS turun, seperti yang terjadi pada Jumat (6/11) saat yen menyentuh level terkuat dalam sepekan di 157,27 per dolar AS.

Yang dipantau

  • Laporan ketenagakerjaan AS bulan Oktober, termasuk nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran, Jumat (6/11) pukul 20.30 WIB.
  • Pidato Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem, Jumat (6/11) pukul 21.10 WIB.
  • Survei pendahuluan sentimen konsumen Universitas Michigan, Jumat (6/11) pukul 22.00 WIB.
  • Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 8-9 Desember 2026, saat Fed memutuskan suku bunga berikutnya.