Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru terhadap dua perusahaan yang menurut Departemen Keuangan AS memeras kapal dagang di Selat Hormuz, Kamis (5/11).

Kantor Pengawasan Aset Asing (Office of Foreign Assets Control, OFAC) menetapkan Persian Gulf Marine Insurance Company dan HormuzSafe Marine Services Authority sebagai pihak yang diblokir. Kedua perusahaan itu terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps, IRGC) Iran. Menurut Departemen Keuangan AS, keduanya memaksa kapal dagang membeli asuransi maritim wajib untuk melintasi Selat Hormuz. Pembayaran dilakukan antara lain dengan Bitcoin dan aset digital lain untuk menghindari sanksi.

OFAC juga menjatuhkan sanksi terhadap delapan kapal tanker armada bayangan Iran beserta delapan perusahaan pemilik dan pengelolanya. Kapal-kapal itu antara lain WELL SAIL, LILY, dan AL SALMI, yang menurut Washington mengangkut jutaan barel minyak mentah Iran ke China dan Uni Emirat Arab. Sejak awal tahun, OFAC telah memberi sanksi terhadap lebih dari 100 kapal yang terkait dengan armada bayangan Iran.

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran minyak yang penting. Sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas, LNG) dunia yang diangkut lewat laut melewati selat ini, menurut Al Jazeera. Pada Selasa (3/11), Presiden AS Donald Trump menunda operasi militer untuk memandu kapal yang terjebak di selat itu, dengan alasan ada kemajuan dalam perundingan dengan Iran. Blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku.

Langkah ini datang saat harga minyak mentah Brent pulih tipis setelah jatuh tajam pada Rabu (4/11). Brent ditutup pada 94,62 dolar AS per barel pada Rabu, turun 8,7 persen, lalu diperdagangkan sekitar 95,40 dolar AS pada Kamis pukul 16.00 WIB menurut Reuters. Pemulihan itu sudah terjadi sebelum pengumuman sanksi ini keluar.

Latar singkat

KabarFX sebelumnya memberitakan kejatuhan Brent pada Rabu (4/11) setelah pemilu sela AS memicu harapan de-eskalasi perang AS-Israel dengan Iran. Baca artikel sebelumnya: Brent Anjlok 8,7% ke $94,62, Terendah Dua Bulan Usai Demokrat Menang

Kenapa ini penting untuk forex

Selat Hormuz adalah titik sempit bagi pasokan minyak dunia, sehingga biaya dan risiko pelayaran di sana langsung memengaruhi harga minyak. Harga minyak yang lebih tinggi menaikkan ekspektasi inflasi energi, dan itu bisa mengubah ekspektasi pasar terhadap suku bunga bank sentral, termasuk Federal Reserve (Fed). Sanksi baru ini menekan pasokan minyak Iran, tetapi pada saat yang sama perundingan AS-Iran yang berlanjut menahan harga agar tidak melonjak.

Bagi mata uang, dolar AS cenderung diuntungkan saat ketegangan meningkat karena perannya sebagai aset aman, sementara mata uang importir minyak seperti yen Jepang lebih rentan saat harga energi naik. Sebaliknya, harapan de-eskalasi yang menekan Brent pada Rabu justru melemahkan dolar dan mengangkat euro serta pound sterling.

Yang dipantau

  • Laporan ketenagakerjaan AS bulan Oktober, termasuk nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran, Jumat (6/11) pukul 20.30 WIB.
  • Pidato Presiden Federal Reserve (Fed) New York John Williams, Jumat (6/11) pukul 16.30 WIB, dan Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem pukul 21.10 WIB.
  • Survei pendahuluan sentimen konsumen Universitas Michigan, Jumat (6/11) pukul 22.00 WIB.